Tumbuhan Penghasil Minyak Atsiri, Eucalyptus globulus, Buah Bibir Masyarakat Kala Pandemi COVID-19

Eucalyptus globulus
Eucalyptus globulus

Masyarakat global saat ini terus berjuang untuk melawan pandemi COVID-19. Kolaborasi antar negara pun terjadi dan sudah barang tentu kompetisi balapan tak terhindarkan dalam hal eksplorasi penemuan obat ataupun antivirus baru sebagai solusi atas pandemi COVID-19. Temuan demi temuan telah disampaikan kepada publik meski masih dalam rangkaian uji coba sebelum dapat dirasakan manfaatnya secara lebih luas kepada dunia, termasuk potensi dari tumbuhan kina yang telah diulas sebelumnya. Satu diantara inovasi temuan-temuan tersebut, selain kina,  adalah minyak atsiri.

(Baca juga: Mengenal Kina, Tumbuhan Hutan Pegunungan Yang Berpotensi Sebagai Penangkal Virus Corona)

Minyak atsiri adalah suatu senyawa kimia organik yang memiliki berat molekul ringan serta mudah menguap disebabkan oleh daya volatilitasnya yang tinggi. Minyak atsiri diperoleh melalui penyulingan organ tumbuhan, salah satunya daun. Minyak atsiri bisa didapatkan dengan melakukan penyulingan daun yang berasal dari jenis tumbuhan tertentu, sebagai contoh adalah kayu putih (Melaleuca leucadendron) dan ekaliptus (Eucalyptus spp.). Baru-baru ini, masyarakat Indonesia ramai membincang produk yang dipatenkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). 

Klaim potensi manfaat dari minyak atsiri sebagai antivirus didasari oleh adanya kandungan 1,8 cineole. Sharma dkk. baru-baru ini melaporkan sebuah penelitian berjudul Eucalyptol (1,8 cineole) from Eucalyptus Essential Oil a Potential Inhibitor of COVID 19 Corona Virus Infection by Molecular Docking Studies. Mereka menyatakan bahwa senyawa 1,8 cineole berpotensi sebagai penghambat protein Mpro pada virus penyebab penyakit COVID-19.

Senyawa 1,8 cineole itulah yang ditemukan pada jenis ekaliptus. Ekaliptus sendiri sejatinya baru merujuk pada nama genus yang terdiri atas banyak spesies tumbuhan. Pada susunan taksonomi, genus Eucalyptus tercakup dalam famili Myrtaceae. Secara spesifik, dari sekian banyak spesies ekaliptus, spesies yang dikenal sebagai penghasil cineole sejak 1850 adalah Eucalyptus globulus. E. globulus memiliki kandungan 1,8 cineole sebesar 66%. Tercatat dalam sebuah temuan, kandungan cineole dari E. globulus dan E. polybractea tergolong dalam senyawa yang memiliki aktivitas antimikroba tertinggi dibandingkan spesies ekaliptus yang lain (Aldoghaim dkk., 2018).  

Menengok asal wilayahnya, E. globulus berasal dari Australia dan memiliki sebaran yang cukup luas. Sebaran yang luas tersebut terjadi karena E. globulus merupakan jenis ekaliptus yang ditemukan pada awal-awal perkembangan komoditas ekaliptus. Dengan demikian, penyebarannya pun sangat cepat meluas ke beberapa wilayah, baik Asia, Afrika, serta Amerika. Penyebarannya  sudah dimulai sejak abad ke-18. Pada konteks di Indonesia, pengalaman riset dari Irfan dan Pudjiharta dalam rilis Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyatakan bahwa tumbuhan bule asal Australia ini didatangkan pada tahun 1800 ke Indonesia dan ditanam pada lokasi dengan ketinggian 1.730 m dpl di Pasuruan, Jawa Timur. 

Eucalyptus globulus memiliki kenampakan sebagai pohon. E. globulus tergolong tumbuhan dengan kecepatan tumbuh yang tinggi. Centre for Agriculture and Bioscience International (CABI)  mencatat bahwa batangnya monopodial lurus menjulang dapat mencapai tinggi 20 meter bahkan 70 meter. Batang E. globulus memiliki warna abu-abu dengan kulit batang mengelupas. Pada saat usia muda, daun berbentuk bulat telur dengan warna abu kebiru-biruan, sedangkan pada usia dewasa bentuk daun menjadi lanset. Pada aspek generatif, E. globulus akan mulai berbunga pada usia 4-5 tahun. Perbungaannya tergolong unik dengan adanya penutup berwarna putih yang akan tanggal ketika bunga mulai mekar. Sedangkan, tipe buahnya adalah kapsul, berbentuk lonceng, dan ukuran biji sangat kecil. Pada ketinggian pohon 40 meter, biji yang sangat kecil dapat menyebar hingga jarak 20 meter dengan kecepatan angin 10 km per jam.

Eucalyptus globulus

Berkaitan dengan tempat hidup alias habitat, ekaliptus ini berada dalam rentang habitat yang lebar terutama pada daerah subtropis. Ketinggian tempat dimana dapat dijumpai adanya E. globulus berkisar dari 0 hingga 2.400 m dpl. Tipikal tempat hidup yang disukai antara lain: tidak ternaungi; pH tanah 5,5-6,5; memiliki drainase baik; kesuburan yang bagus; curah hujan tahunan antara 700-1.400 mm; dan suhu 18-23oC. Namun disisi lain, E. globulus juga memiliki sejumlah toleransi bagi tempat tumbuhnya yakni kesuburan yang rendah; curah hujan tahunan 550 hingga 1800 mm; rentang suhu 6-30 oC.     

Eucalyptus globulus secara spesifik memang dikenal sebagai tumbuhan aromaterapi, namun bukan berarti tanpa manfaat yang lain. Senyawa cineole yang ada dapat memberi sumbangsih di berbagai sektor seperti kecantikan atau kosmetik, pangan, parfum, insektisida alami, aroma terapi, hingga bahan obat. Selain itu, informasi spesies dari Atlas Pohon Eropa (2016) menyebutkan bahwa E. globulus dapat dimanfaatkan sebagai pertanaman hutan industri pulp. Tidak kalah menarik, Flores dkk. (2014) melaporkan bahwa ekaliptus merupakan kelompok tumbuhan potensial sebagai pakan lebah penghasil madu, termasuk E. globulus.

Sedemikian besar manfaat dari E. globulus sebagai sebuah tanaman mengantarkan kita dalam sebuah perenungan bahwa alam memiliki caranya untuk menyeimbangkan diri. COVID-19 yang disebabkan oleh ketidakseimbangan alam, tentunya dapat diperoleh kemungkinan jawaban atas masalah tersebut juga berasal dari alam. Tumbuhan aroma terapi, seperti E. globulus misalnya, menjadi potensi yang besar untuk mengatasi pandemi ini. Masih banyak sebenarnya potensi dari alam yang belum terungkap, namun kita harus berkompetisi dengan kehancuran alam yang kian nyata. Maka, upaya-upaya menjaga keseimbangan dan kekayaan alam adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang terkadang congkak meski sejatinya sangat lemah melawan makhluk kurang dari satu micron ini, virus SARS-COV-2.  

Salam lestari! (ANJ)

Featured Image : Australian National Botanic Gardens