Komitmen Daerah Mengurangi Sampah Plastik Melalui Perda

plastik, tanaman
pengolahan-sampah-plastik

Sampah dan limbah merupakan permasalahan serius di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) (2018) mengungkap fakta bahwa masalah persampahan sangat terkait dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Jika kita perhatikan secara seksama, cukup banyak pemberitaan di media mengenai sampah dan limbah diberbagai daerah. Berita itu sangat beragam mulai dari pengelolaan sampah yang belum baik hingga menumpuknya stok sampah di TPS/TPA yang ada. Banyak sekali ragam sampah yang dihasilkan, salah satunya berupa sampah plastik.

Data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana dinukil dari indonesia.go.id  menunjukkan bahwa sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Jumlah ini tentunya sangat besar apabila diakumulasikan dari tahun ke tahun dengan disertai pengelolaannya yang belum optimal. Hal ini erat kaitannya dengan fakta bahwa plastik memerlukan waktu terurai yang bervariasi tergantung pada bentuk dan struktur polimernya. 

Sampah dari botol kemasan yang berbahan dasar plastik.
Sampah dari botol kemasan yang berbahan dasar plastik. Sumber: Kumparan

Waktu penguraian kantong plastik tentu akan berbeda dengan botol kemasan, begitu pula jenis lainnya. Dilansir dari cnnindonesia.com, kantong plastik memerlukan waktu 10-12 tahun untuk bisa terurai di tanah, sedangkan botol kemasan memerlukan waktu yang lebih lama, mencapai 20 tahun. Sumber yang sama menjelaskan bahwa styrofoam memerlukan waktu yang lebih lama lagi, mencapai 500 tahun. Bahkan sumber lainnya menyebutkan styrofoam tidak dapat terurai. Keadaan ini memberikan gambaran bagi kita untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik yang berpotensi menjadi sampah.

Sebagaimana disampaikan oleh Surono dalam publikasi penelitiannya di tahun 2013, bahwa sampah plastik akan berdampak negatif terhadap lingkungan karena tidak dapat terurai dengan cepat dan berpotensi menjadi penyebab banjir apabila dibuang sembarangan. Pengelolaan sampah yang tidak benar, seperti dibakar juga berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca di atmosfer dan menghasilkan zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Dengan berbagai fakta tersebut, maka meningkatnya sampah plastik ini akan menjadi masalah serius bila tidak dicari solusi konkritnya. 

Salah satu upaya untuk menekan produksi sampah plastik, yaitu melalui penetapan kebijakan berupa peraturan daerah. Di Indonesia, sampai saat ini terdapat 7 (tujuh) daerah yang sudah menetapkan peraturan tentang pembatasan penggunaan plastik di wilayahnya.

Daerah tersebut yaitu Provinsi DKI Jakarta, Bali, Kota Semarang, Balikpapan, Bekasi, Bogor, dan Banjarmasin. 

Pada Pergub (Peraturan Gubernur) ataupun Peraturan Walikota di daerah tersebut, mayoritas berisikan pembatasan penggunaan plastik berupa kantong plastik, sedotan, pipet plastik, dan styrofoam dari berbagai pelaku usaha seperti hotel, toko modern, toko ritel, minimarket, mal, restoran, dan penjual makanan. Bagi yang melanggar, mereka beresiko menerima sanksi mulai dari sanksi teguran tertulis, uang paksa, pembekuan izin usaha, hingga pencabutan izin usaha. Selain mengatur mengenai bentuk plastik yang dibatasi dan sanksinya, juga diatur mengenai upaya untuk mensosialisasikan dan alternatif solusi berupa penyediaan kantong belanja ramah lingkungan.

Hadirnya peraturan tersebut tentunya membawa angin segar bagi Indonesia, yang merupakan negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah China. Meskipun sudah ada daerah yang membuat peraturan mengenai pembatasan plastik, namun jika dibandingkan dengan jumlah kota/provinsi di Indonesia, maka itu baru sedikit sekali. Kendati demikian, semangat positif harus terus dijaga, karena sebagian daerah lainnya seperti Jawa Barat dan Cirebon sudah mulai diwacanakan akan membuat peraturan serupa. 

Penggunaan botol bekas untuk aquaponik.
Penggunaan botol bekas untuk aquaponik. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Plastik minyak yang dimanfaatkan menjadi pot tanaman.
Plastik minyak yang dimanfaatkan menjadi pot tanaman. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Semakin banyak daerah yang menetapkan larangan/pembatasan penggunaan plastik, maka setidaknya hal itu turut berkontribusi dalam mengurangi peredaran plastik di Indonesia. Namun semua itu tentunya tidak serta merta menurunkan produksi sampah plastik di Indonesia. Di sini, peran masyarakat selaku konsumen sangat krusial. Jika di tataran pengambil kebijakan sudah diatur, maka saat ini perlu digencarkan kampanye/sosialisasi kepada masyarakat. Kampanye dapat dilakukan dengan mengoptimalkan berbagai media digital yang saat ini tengah berkembang pesat dan banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Kampanye tidak hanya terbatas larangan saja, namun perlu disampaikan mengenai alternatif solusi yang ditawarkan. Jika pembatasan penggunaan plastik sudah berhasil, maka langkah selanjutnya adalah mengenai pengelolaan sampah dari plastik tersebut.

Dewasa kini, sebagian besar dari kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah penanganan sampah plastik 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Istilah reuse mengarah kepada penggunaan kembali barang-barang yang terbuat dari plastik, reduce mengarah pada pengurangan penggunaan barang-barang dari plastik, dan recycle berarti mendaur ulang barang-barang yang terbuat dari plastik. Reduce telah diakomodir melalui perda di atas, sementara reuse dan recycle perlu ada pendampingan tersendiri kepada masyarakat.

Dikutip dari katadata.co.id bahwa kesadaran masyarakat di Indonesia untuk mendaur ulang sampah plastik masih tergolong rendah. Berdasarkan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2018 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), hanya 1,2% rumah tangga yang mendaur ulang sampahnya. Statistik tersebut tentunya bukan angka yang baik, namun bukan hal mustahil untuk ditingkatkan/perbaiki. Berbagai langkah nyata dapat dilakukan, mengingat di berbagai lokasi sudah berhasil dilakukan. Sampah plastic sebenarnya dapat digunakan untuk membuat aquaponik, kerajinan tangan bernilai tinggi, dan masih banyak lagi. 

Aneka kerajinan dari plastik kemasan makanan yang sudah tidak digunakan.
Aneka kerajinan dari plastik kemasan yang sudah tidak digunakan. Sumber: Web UKM

Tentunya semua itu membutuhkan waktu, bukan secara instan, sehingga harus bersabar dalam memulainya, hingga berhasil di kemudian hari. Mengelola sampah plastik adalah hal baik untuk lingkungan, bumi, dan manusia itu sendiri. Tentunya, itu semua mulai dulu dari kamu, dan lakukan sekarang. Karena perubahan tidak datang sendiri, melainkan kita yang memulai. (IR)

Featured Image : Dokumentasi Pribadi