Masyarakat Adat, Hutan, dan Pengetahuan Pemanfaatan Tumbuhan: Bajakah Sang Obat Mujarab

Sumber: poroslombok.com

Masyarakat adat yang tinggal di dalam hutan memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Mereka sangat mengenali alam sekitar dan segala manfaatnya. Semua kebutuhan pun dipenuhi dari hutan. Pengetahuan itu mereka dapatkan secara turun-temurun dari nenek moyang berdasarkan pengalaman dari bertahun-tahun menjelajahi hutan.

Tak bisa dimungkiri lagi jika hutan adalah sumber daya yang sangat penting dan tak ternilai harganya. Sebagai contoh, yang paling dasar saja, adalah terkait pangan. Banyak sumber pangan ternyata tersedia di hutan. Kita tidak boleh lupa bahwa bahan-bahan pangan nabati yang kita konsumsi hari ini, sebelum didomestikasi dan menjadi tanaman budi daya, mereka adalah tumbuhan liar dari berbagai tipe ekosistem hutan.

Tak kalah penting dari pangan, bahan-bahan obat adalah hal yang kian disoroti hari ini. Obat-obatan herbal semakin hari menunjukkan tren semakin diminati, seperti yang pernah disampaikan oleh Kementerian Kesehatan belum lama ini. Selain karena efek samping yang dipercaya lebih rendah dari obat-obatan kimiawi sintetis, obat-obatan herbal juga memang terbukti ampuh menyembuhkan berbagai penyakit. Dimana mayoritas bahan obat herbal itu di dapat? Hutan tentu adalah jawabannya. Lebih menakjubkan lagi, Kementerian Kesehatan di tahun 2017  telah menginventarisasi dan mendapatkan data bahwa Indonesia memiliki 2.848 spesies tumbuhan obat dan 32.014 ramuan obat.

Berbicara kaitan antara masyarakat adat, hutan, dan pengetahuan pemanfaatan tumbuhan, tak ada salahnya untuk belajar dari masyarakat adat Suku Dayak yang tinggal di pedalaman hutan Kalimantan. Kemampuan dan pengetahuan mereka dalam bidang pemanfaatan tumbuhan obat untuk menunjang kesehatan sudah tak diragukan lagi. Salah satu tumbuhan yang mereka manfaatkan adalah bajakah.

Suku Dayak berburu dan mengumpulkan tumbuhan obat. Sumber: Tirto.id

Kata “bajakah” merupakan istilah yang diberikan secara langsung oleh Suku Dayak. Bajakah, dalam bahasa mereka, merupakan tumbuhan merambat berkayu (liana) yang termasuk dalam suku Leguminosae atau versi lebih bakunya adalah suku Fabaceae. Seperti diketahui bahwa ciri khas suku ini adalah memiliki buah bertipe polong, maka bajakah pun demikian. Bajakah memiliki daun majemuk dengan pinak daun berjumlah tiga. Bunganya pun majemuk serta mahkotanya berwarna putih. Akar dan batang adalah bagian utama yang sering dimanfaatkan untuk pengobatan. Sebaran alami tumbuhan ini ada di hutan-hutan Kalimantan dan Filipina, sebagaimana data yang dihimpun oleh Kew Science.

Daun dan Potongan Batang Bajakah. Sumber: Harapan Rakyat

Bajakah dalam dunia botani dikenal dengan nama Spatholobus littoralis Hassk. Tumbuhan merambat ini pertama kali ditemukan, dideskripsikan, dan dilaporkan secara ilmiah oleh  Justus Carl Hasskarl, seorang botaniwan Jerman, dalam publikasinya “Flora; oder, (allgemeine) botanische Zeitung. Regensburg, Jenapada 1842. Tumbuhan ini ternyata juga memiliki dua nama sinonim yaitu Butea littoralis (Hassk.) Blatt (1929). dan Derris leytensis Merr (1949). Nama sinonim muncul karena peneliti yang memberikan nama menganggap tumbuhan tersebut adalah jenis baru, padahal setelah ditinjau ulang ternyata termasuk jenis yang sama dengan yang ditemukan Hasskarl. Dua nama itu pun akhirnya berstatus sebagai sinonim.

Setelah mengetahui dengan jelas identitas bajakah, manfaatnya pun perlu dikenali. Berawal dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat adat bahwa bajakah ini adalah obat yang mujarab, maka para peneliti pun kemudian tertarik mengkaji lebih lanjut secara ilmiah. Saputera dkk. di tahun 2018 mencoba meneliti uji aktivitas etanolik batang bajakah (Spatholobus littoralis) terhadap waktu penyembuhan luka. Hasil kajian menunjukkan bahwa salep ekstrak etanol batang bajakah dengan kadar 10% sebanyak 0,5 gram yang diberikan sebanyak 2 kali sehari adalah yang paling baik dalam kecepatan penutupan luka dan pemulihan jaringan kulit yang luka tersebut.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal mengenai manfaat medis bajakah sampai saat ini masih sebatas hanya penelitian Saputera dkk. di tahun 2018. Kajian terhadap potensinya sebagai penangkal kanker pun belum ada yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Padahal, bajakah ini telah terbukti dapat menyembuhkan berbagai penyakit dalam praktik pengobatan Suku Dayak. Hal ini sesungguhnya membuka peluang sangat besar untuk meneliti bajakah lebih lanjut dari berbagai aspek. Meskipun demikian, fakta adanya sistem pengetahuan masyarakat adat terkait pemanfaatan bajakah sebagai obat tidak bisa dipandang remeh. Hal ini seharusnya menjadi inspirasi atau pijakan awal untuk mengembangkan riset ilmiah lebih lanjut.

Fenomena masyarakat adat dan sistem pengetahuan mereka dalam pemanfaatan tumbuhan memberikan pembelajaran bahwa sesungguhnya nenek moyang kita telah meninggalkan suatu khasanah pengetahuan luar biasa, yang selama ini kurang diperhatikan. Meskipun mungkin belum menjadi kebenaran ilmiah secara empiris, tetap saja generasi saat ini sebaiknya mewarisi hal itu agar transfer pengetahuan tidak terputus. Menimba pengetahuan pemanfaatan tumbuhan dari masyarakat adat tak pernah mengecewakan. (AN)

Featured Image: Poroslombok.com