Pohon dan Pendidikan Budi Pekerti, Petuah dari Sawo Kecik

Ilustrasi Pohon Sawo Kecik
Ilustrasi Pohon Sawo Kecik

Kehidupan manusia harus diakui telah mengalami banyak perubahan sejak awal menuju pertengahan abad dua puluh satu ini. Saat ini dapat dikatakan bahwa globalisasi telah terjadi. Arus budaya, gaya hidup, maupun ilmu pengetahuan sangat mudah mengalir dalam rentang antar negara, antar bangsa, bahkan antar benua seperti tak ada batas yang berarti. Kemajuan teknologi yang dicapai manusia hari ini menjadi salah satu faktor pendukung utama globalisasi tersebut. Dengan segala kemajuan yang terjadi, nilai-nilai budi pekerti harus selalu mendampingi, agar tidak melupakan jati diri.

Budi pekerti tak pernah menjadi barang usang meski dalam gemerlap kemajuan dunia hari ini. Ia selalu dibutuhkan manusia untuk memaknai hidupnya. Budi pekerti akan membawa manusia menuju tatanan hidup yang baik, membuat manusia saling memahami, dan menciptakan kedamaian. Dengan demikian, nilai budi pekerti sangat penting, tidak hanya menjadi benteng diri, namun juga sebagai guidance.

Banyak media pembelajaran terhadap nilai budi pekerti. Media yang paling umum dilakukan saat ini adalah melalui pola komunikasi antar manusia dalam bentuk nasihat, ajaran, atau  teladan. Sesungguhnya memaknai alam yang ada di sekitar kita pun juga bisa dilakukan di luar cara umum tersebut. Banyak filosofi nilai budi pekerti di sekitar kita yang telah ditafsirkan oleh para leluhur. Semua hal itu, kemudian akan terinternalisasi dalam sebuah kebudayaan yang dibangun. Kebudayaan jawa adalah salah satu contohnya.

Dalam kebudayaan jawa, banyak sekali dikenal “perlambang” yang ada di alam sekitar kita, salah satunya pada pohon. Banyak sekali jenis-jenis pohon yang mengandung nilai filosofi budi pekerti. Salah satunya adalah pohon sawo kecik. Dengan memahami segala unsur yang ada di pohon tersebut, banyak nilai yang akan didapatkan. Sebelum mengurai lebih lanjut tentang nilai yang ada, memahami identitas sawo kecik lebih dekat pun tidak ada salahnya.

Sawo kecik dalam dunia ilmiah dikenal sebagai Manilkara kauki yang merupakan anggota dari marga Manilkara dari suku Sapotaceae. Dia pertama kali ditemukan sebagai suatu spesies oleh Linnaeus pada tahun 1753 dalam publikasinya yaitu “Species Plantarum seri 1:349”. Waktu itu, Linnaeus mengenalinya sebagai anggota marga Mimusops dan memberinya nama Mimusops kauki L. Huruf “L” di sini menunjukkan bahwa Linnaeus sebagai sang penemu atau author

Setelah lebih dari seratus tahun, tepatnya pada tahun 1915, seorang ahli taksonomi tumbuhan bernama Dubard melakukan tinjauan ulang secara menyeluruh pada anggota marga Manilkara dan Mimusops yang dipublikasikan dalam “Annales du Musée Colonial de Marseille seri 3,3:9”. Ia menemukan fakta bahwa Mimusops kauki lebih tepat berada dalam anggota marga Manilkara berdasarkan penelitian pada aspek morfologinya secara menyeluruh. Perpindahan posisi takson pun dilakukan. 

Sesuai tata aturan dalam sistem penamaan ilmiah untuk tumbuhan (Shenzhen code-2018), apabila suatu perpindahan posisi takson marga terjadi, maka nama penunjuk jenisnya tetap digunakan dan disesuaikan ulang dengan gender nama marga yang baru. Dengan demikian, Mimusops kauki L. resmi berpindah menjadi Manilkara kauki (L.) Dub. Dapat dilihat bahwa “L.” menjadi “(L.) Dub.” Ini memberikan arti bahwa telah terjadi proses perbaikan oleh Dubard terhadap apa yang dilakukan oleh Linnaeus. 

Proses revisi tersebut adalah salah satu kegiatan yang wajar terjadi dalam dunia taksonomi tumbuhan karena identitas itu harus tepat. Identitas adalah hal yang paling mendasar dan penting. Identitas yang salah bisa membawa kekacauan yang besar dalam dunia ilmu pengetahuan, apalagi kalau sudah masuk pada ranah keilmuan medis yang berhubungan dengan pemanfaatan tumbuhan sebagai obat.

Setelah mengenal seluk-beluk akan identitas pohon sawo kecik, kini saatnya mengenal lebih dekat tentang nilai filosofi yang terkandung. Nilai-nilai budi pekerti ini sangat layak untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila suatu saat menjumpai pohon sawo kecik, maka dengan sendirinya akan teringat tentang petuah baiknya. Petuah itulah yang akan membawa nasihat berharga.

Dari segi nama, “sawo kecik” berasal dari serapan bahasa jawa “sarwo becik” dimana “sarwo” bermakna “serba” dan “becik” bermakna “baik”. Sawo kecik mengajarkan bahwa dalam kehidupan ini kita hendaknya selalu menjadi manusia yang serba baik sejak dari pikiran hingga tindakan.

Dari segi habitus, sawo kecik berhabitus pohon dengan batang tunggal yang tegak, besar, dan nampak gagah. Selain itu, bagian tajuknya lebar, teduh, dan mampu menaungi. Hal ini mengajarkan kita bahwa hendaknya dalam membawa atau memperjuangkan “becik” tadi itu kita harus tegar, kuat, gagah, terhadap apapun yang menghalangi terwujudnya “becik” tadi. Nilai “becik” harus selalu dibawa dalam kehidupan, namun demikian kita juga harus mampu menaungi, memberi kesejukan, menebar kebaikan, layaknya tajuk pohon sawo kecik yang senantiasa menyejukkan suhu udara sekitarnya, menebarkan oksigen untuk kehidupan makhluk lain.

Habitus Sawo Kecik, Sumber : Docplayer

Dari segi tajuk, sawo kecik memiliki bentuk berupa kubah membulat, dari bawah lebar, kemudian semakin ke atas semakin mengecil menuju satu titik di paling atas. Ini bermakna sebuah filosofi bahwa dalam kehidupan ini hendaknya kita senantiasa “melebarkan” kebermanfaatan kita pada sesama, namun kita juga harus seperti bagian atas tajuk yang menuju ke atas, maka kita juga harus berorientasi menuju Tuhan, yaitu berkaitan dengan ibadah kita agar mengantarkan pada tujuan akhir setelah kematian.

Permukaan helaian daun sawo kecik berbeda antara bagian atas dan bawahnya. Daun bagian atas berwarna hijau tua agak mengkilap, sedang bagian bawah berwarna abu-abu cerah hampir keperakan. Ini memberikan makna bahwa kebaikan itu tidak perlu selalu diumbar atau diberitakan. Layaknya warna terang daun sawo kecik yang ia sembunyikan di permukaan bawah helaian, memberikan makna akan sifat tulus ikhlas.

Jelaslah sudah, bahwa sawo kecik sarat akan makna dan filosofi. Budi pekerti tak akan pernah menjadi barang usang meski dalam gemerlap kemajuan dunia hari ini. Sudahkah menjumpai pohon tersebut dan melatih menerapkan budi pekerti yang ia ajarkan? (AN)

Featured Image : ugm.ac.id