Tantangan Manusia Menghadapi Bencana (Bagian 1)

Ilustrasi Bencana Siklon
Ilustrasi Bencana Siklon

Ilmu astronomi telah mengungkapkan fakta yang luar biasa bahwa alam semesta kita terus berkembang sejak peristiwa Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Big bang adalah salah satu teori yang diajukan oleh para ilmuwan yang menjelaskan bahwa terbentuknya alam semesta diawali dengan adanya sebuah ledakan yang dahsyat. Dengan adanya peristiwa itu, benda-benda langit yang ada di dalamnya selalu bergerak dan berubah-ubah, tidak terkecuali dengan planet bumi kita ini yang sudah berusia sekitar 4,5 miliar tahun. Pada proses perkembangannya, bumi mengalami evolusi yang pada mulanya berbentuk bola panas lalu seiring berjalannya waktu permukaannya semakin mendingin. Kondisi yang demikian memungkinkan munculnya makhluk hidup di permukaan bumi pada sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Para ilmuwan telah membuat klasifikasi kronologi sejarah pembentukan bumi yang disebut Geologic Time Scale (GTS) atau Skala Waktu Geologi yang terbagi dalam beberapa kategori fase waktu, yaitu Eon, Era, Periode, dan Kala. Kehidupan masa sekarang yang kita jalani berada pada fase Eon Fanerozoikum, Era Senozoikum, Periode Kuarterner, dan Kala Holosin.

Ilustrasi skala waktu geologis (Sumber : Illinois)

Pada masing-masing skala waktu tersebut, permukaan bumi telah mengalami banyak perubahan struktur dan kenampakan. Hingga saat ini dan seterusnya, bumi akan selalu berevolusi dan berubah bentuk dengan indikasi adanya pergeseran lempeng, gunung meletus, kekeringan, tornado, perubahan iklim, dan peristiwa lainnya. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat dikategorikan sebagai fenomena alam biasa sama halnya dengan hujan, angin, matahari terbenam, dan sebagainya. Bumi yang kita pijak ini dari sebelum adanya manusia, saat ada manusia, hingga setelah manusia punah pun akan tetap melakukan aktivitas alam tersebut.

Dari pertama terbentuk, hingga saat ini, dan seterusnya, fenomena erupsi gunung berapi akan selalu terjadi. Terdapat sekitar 1.500 gunung berapi di dunia yang hampir setiap minggu selalu ada satu gunung yang meletus (Volcano Hazard Program, 2011). Erupsi gunung berapi diakibatkan oleh adanya tekanan dari dalam perut bumi akibat dari cairan yang sangat panas yang disebut magma. Dengan demikian, erupsi gunung berapi hanyalah fenomena alam biasa yang rutin dilakukan oleh planet bumi untuk menyeimbangkan volum kandungan magma di dalam perut bumi. Setiap gunung berapi memiliki interval waktu meletus yang berbeda-beda. Selama interval waktu itu, bisa saja ada manusia yang membuat permukiman di sekitar gunung tersebut, sehingga ketika jadwal meletus tiba, terjadilah malapetaka bagi manusia yang ada di sekitarnya.

Sama halnya dengan erupsi gunung berapi, gempa bumi pun dapat diakibatkan oleh berbagai macam faktor terkait dengan tipe gempa yang terjadi. Gempa yang paling sering terjadi yaitu gempa tektonik yang diakibatkan oleh pergeseran lempeng bumi yang rutin terjadi, sedangkan gempa vulkanik diakibatkan oleh aktivitas seismik dari gunung berapi. Selain itu, terdapat pula jenis gempa lainnya yang cukup jarang terjadi yaitu gempa tumbukan yang diakibatkan oleh adanya tumbukan meteorid atau asteroid. Gempa bumi dapat terjadi dimanapun dan kapanpun. Hal itu dapat menjadi bencana ketika ada manusia di tempat terjadinya gempa tersebut. Dengan demikian, makna kata bencana sesungguhnya adalah relatif dan subjektif dari sudut pandang manusia (antroposentris). Proses alami yang terjadi di muka bumi dapat dipandang sebagai bencana oleh manusia.

Fenomena alam pada prinsipnya hanyalah sekadar implikasi dari proses-proses yang terjadi yang mengikuti hukum alam. Dalam beberapa hal, fenomena tersebut terjadi dengan tujuan untuk penyeimbangan alam itu sendiri. Di sisi lain, sejarah mencatat banyak terjadi fenomena alam yang merugikan makhluk hidup yang mendiami bumi pada saat itu. Banyak hewan purba yang punah dalam skala besar karena terjadinya zaman es yang silih berganti, wabah yang menyebabkan punahnya satwa liar dalam suatu lokasi, kebakaran hutan dan lahan yang melenyapkan banyak populasi tumbuhan dan satwa liar, kekeringan yang membuat makhluk hidup mati kelaparan, serta hal lainnya. Alam akan terus berubah dan beraktivitas dengan memunculkan fenomena-fenomena tersebut. Fenomena alam ini dapat terjadi kapanpun dan dimanapun di belahan bumi ini. Jika ada makhluk hidup yang kebetulan berada di lokasi terjadinya fenomena alam tersebut, mereka bisa saja akan dirugikan oleh peristiwa itu. Fenomena alam yang merugikan makhluk hidup inilah yang kita sebut sebagai bencana alam. Dalam perspektif kita sebagai manusia, fenomena alam dikatakan sebagai bencana alam ketika hal tersebut dapat merugikan manusia, lalu bagaimanakah manusia sebaiknya menghadapi fenomena alam yang merugikan ini? Haruskah manusia memandang hal itu sebagai bencana? (bersambung ke bagian 2). (FM)

Featured Image : vox.com