Tantangan Manusia Menghadapi Bencana (Bagian 2)

Ilustrasi Bencana Longsor
Ilustrasi Bencana Longsor

Fenomena alam yang telah dibahas sebelumnya, pada artikel bagian satu, adalah yang terjadi secara alami. Namun demikian, apakah ada fenomena alam yang diakibatkan oleh campur tangan manusia? Banyak, beberapa fenomena alam memang dapat terjadi akibat adanya ulah manusia. Kita ambil contohnya fenomena yang cukup populer yaitu banjir. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering oleh adanya volum air yang meningkat. Banyak hal yang bisa menjadi faktor terjadinya banjir, bisa faktor alam bisa juga faktor manusia. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa banjir yang sering terjadi merupakan akibat ulah manusia. Banjir pada mulanya merupakan fenomena yang alami namun saat ini banyak terjadi banjir yang merupakan dampak dari akumulasi perilaku manusia. Banjir yang alami seperti banjir rob dan banjir bandang alami dapat menjadi bencana juga jika di lokasi kejadian terdapat manusia.

Fenomena lain yang erat kaitannya dengan banjir yaitu tanah longsor. Tanah longsor juga merupakan fenomena alam yang sering terjadi di kawasan yang berbukit atau di tanah yang memiliki kelerengan yang curam. Tanah longsor merupakan peristiwa geologis yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti curah hujan yang tinggi, sifat  tanah,  bahan  induk,  serta kemiringan tanah, selain itu juga dapat diakibatkan oleh gempa bumi, maupun gunung meletus. Namun demikian, tanah longsor paling sering diakibatkan oleh tingginya curah hujan yang berdampak pada meningkatnya massa air di dalam tanah sehingga tanah yang lokasinya miring tidak mampu mempertahankan posisinya karena ditarik oleh gaya gravitasi. Secara alami, tanpa ada manusia pun tanah longsor merupakan peristiwa geologis yang lumrah terjadi.

Namun di sisi lain, manusia juga dapat mengakibatkan terjadinya longsor. Contohnya yaitu dengan mengeruk bukit yang awalnya memiliki kemiringan landai menjadi lebih curam. Dengan kondisi bukit yang lebih curam, tanah pada bukit tersebut lebih rawan untuk terjadi longsor. Contoh lain yaitu dengan menebang pohon di daerah yang kemiringannya cukup tinggi. Kondisi tanah yang awalnya sudah miring namun konstruksinya diperkuat oleh akar pepohonan setelah dikonversi menjadi penggunaan lain seperti bangunan dan lahan pertanian maka tidak ada lagi akar yang dapat menahan tanah tersebut. Tanah pun kehilangan penahan struktural alaminya, sehingga ketika curah hujan lebat maka tanah tersebut akan mengalami longsor. Berbagai fenomena tersebut sering dikenal sebagai bencana.

Di Indonesia, terkait dengan bencana, telah ditetapkan peraturan  yaitu Undang-Undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Peraturan tersebut mendefinisikan bencana sebagai “peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis”. Pada peraturan tersebut, tepatnya pasal 1, terdapat tiga macam kategori bencana sebagai berikut:

  • Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
  • Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
  • Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

Dari ulasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa fenomena alam belum tentu merupakan sebuah bencana, begitu pula sebaliknya (karena adanya bencana non alam). Fenomena alam yang menimbulkan bencana itulah yang disebut bencana alam. Bencana tidak hanya terjadi secara alami saja, namun dapat pula terjadi karena adanya campur tangan manusia. Untuk lebih jelas mengenai keterkaitan fenomena alam dan bencana, dapat dilihat dalam diagram Venn berikut ini:

Diagram hubungan antara fenomena alam dan bencana

Uraian tentang apa dan mengapa sebuah fenomena alam dapat menjadi bencana telah membawa kita pada sebuah pemahaman akan arti cara memandang sesuatu. Dengan cara pandang itu, sebuah rasa ingin tahu pun menuju kepada manusia itu sendiri. Akankah populasi manusia yang selalu meningkat juga sebanding dengan jumlah bencana yang meningkat? (bersambung ke bagian 3). (FM)

Featured Image : Langgam.id