Tantangan Manusia Menghadapi Bencana (Bagian 3)

Ilustrasi Kekeringan
Ilustrasi Kekeringan

Pada artikel bagain kedua, perspektif manusia terhadap fenomena alam telah banyak dibicarakan. Pada artikel ketiga ini, manusia dan perilakunya lah yang akan menjadi fokus ulasan. Dominan di lingkungannya merupakan salah satu sifat alami dari suatu spesies makhluk hidup. Hal itu pun terjadi pada spesies Homo sapiens (red: manusia) yang telah mengalami peningkatan populasi secara signifikan dan membuatnya menjadi dominan di muka bumi. Data dari worldometers.info menyebutkan pada tahun 2020 populasi manusia mencapai 7,7 miliar jiwa. Dominasi manusia diawali pada tahun 1700, tepatnya saat terjadi revolusi industri. Meledaknya populasi manusia memberikan banyak perubahan terhadap bumi. Perubahan tersebut memberikan dampak pada seluruh aspek kehidupan, baik sifatnya positif, ataupun negatif. Salah satu dampak nyata terjadinya perubahan tersebut yaitu meningkatnya intensitas bencana alam akibat perubahan kondisi alam yang dilakukan oleh manusia.

Keberadaan manusia menjadi faktor penting dalam terjadinya fenomena yang menjadi bencana alam. Sesering dan sebesar apapun fenomena alam terjadi di muka bumi, jika tidak ada manusia di lokasi terjadinya peristiwa tersebut maka tidak akan menjadi bencana alam. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa jumlah kejadian bencana alam berbanding lurus dengan jumlah populasi manusia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya kemiripan pola pada grafik pertumbuhan penduduk di Indonesia dengan grafik jumlah bencana alam di Indonesia dari tahun ke tahun. Data yang dikomparasikan merupakan data selama 20 tahun terakhir.

Sumber : World Bank
Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Grafik di atas menggambarkan kejadian bencana alam selama 20 tahun terakhir dengan kecenderungan yang meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Ketika data grafik di atas dilakukan analisis statistik menggunakan analisis korelasi, maka hasilnya memiliki korelasi positif sebesar 0,95 (skala 0-1). Angka tersebut artinya jumlah penduduk Indonesia memiliki hubungan atau korelasi yang sangat tinggi dan berbanding lurus terhadap jumlah bencana alam di Indonesia. Berdasarkan analisis grafik tersebut kita dapat merumuskan logika-logika sebagai berikut:

  1. Semakin banyak dan tersebarnya manusia dalam rangka menempati suatu wilayah di permukaan bumi maka semakin besar pula potensi terjadinya bencana alam.
  2. Keberadaan manusia selalu diikuti oleh aktivitasnya, sehingga aktivitas manusia pun menjadi faktor yang menambah kontribusi terhadap potensi terjadinya bencana alam. 

Berdasarkan fakta tersebut, sudah selayaknya kita berpikir ulang mengenai kelestarian jenis dan kualitas hidup umat manusia. Jika hanya mengutamakan kuantitas umat manusia, bukan sesuatu yang tidak mungkin jika suatu saat nanti dapat terjadi bencana alam yang sifatnya global akibat dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Di satu sisi kita sebagai spesies yang memiliki predikat penguasa di bumi ini namun di sisi lain kehidupan umat manusia mulai dipertanyakan kualitasnya. Permasalahan seperti perubahan iklim, kelaparan, kekeringan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, wabah penyakit, perebutan wilayah yang berujung peperangan, semuanya dapat berdampak pada menurunnya kualitas hidup manusia serta skenario paling buruk yaitu dapat berujung pada kepunahan jenis kita sendiri.

Sepintas terkesan seperti terlalu jauh berangan-angan, namun realitanya saat ini kita berjalan ke arah sana. Hal tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja jika kita berpikir secara multi-generasi, namun tampaknya umat manusia belum banyak yang dapat berpikir tentang kelestarian spesiesnya. Pemerintahan masing-masing negara pada umumnya masih berpikir dalam skala waktu yang relatif pendek yaitu pada periode kekuasaannya saja atau paling tidak hanya pada jangka waktu puluhan tahun saja. Padahal permasalahan umat manusia ini harus dipikirkan jangka panjang, ratusan bahkan ribuan tahun. Meskipun manusia masih dapat mempertahankan eksistensinya selama 200.000 tahun ini, namun itu waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan umur bumi yang telah mencapai 4,5 miliar tahun. Sehingga jika kita ingin menempati bumi ini selama mungkin maka suatu keharusan bagi kita untuk memelihara dengan serius rumah kita ini demi menciptakan kehidupan umat manusia yang berkualitas. Kita tidak akan pernah tahu kapan bencana besar akan datang menghampiri umat manusia. Kita tidak akan pernah tahu kapan habisnya masa jabatan manusia sebagai penguasa di bumi ini (Selesai). (FM)

Featured Image : Gatra.com